~*********************************************~
Averous Creativity
~*********************************************~

  


Image hosted by Photobucket.com

Disini Hadir Kembali
Dalam Kesederhanaan
Mencoba Meniti Langkah
Suara Hati disebuah Laman

Disini Hadir Kembali
Mencari sebuah Wacana
Menapaki Perjuangan hidup
Menggapai Mimpi dunia Maya

Disini Hadir Kembali
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com

<< April 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Image hosted by Photobucket.com




rss feed




Di Usianya yang Menjelang Dua Lima

Contemplasi


Seorang diri melangkah lunglai beranjak pulang dari kampusnya, menjelang senja melalui danau surut, menanjak ke kebun karet, ditengah temaram ada lelah dalam raut mukanya.  Singgah sejenak di Mushala lantai 3 Rektorat menjelang magrib memandang siluet senja ke arah plaza, dan kemudian hening yang menyeruak dalam gemericik air yang terpercik di sela wudhunya, membasuh tirus mukanya, dan kemudian ia tenggelam dalam sepotong asa mencari kekhusuan menghadap Rabbnya.
Beranjak enam bulan sudah, dan ia masih disini, menetapkan hati di kampus birunya, belum bergerak maju, masih menggapai asa dari riuh gelap lembah perjalannya, masih menanti angin yang sejuk untuk mengangkat sayap-sayapnya yang begitu penuh asa untuk segera terbang tinggi.

Enam bulan sudah sejak kelulusannya, ia masih terpaku dalam jalur hidupnya, dia hentikan langkahnya sejenak setelah turun dari tangga, di pandangnya Gunung Salak yang bersembunyi di balik kelabu awan, rumput hijau di seberang taman sana yang masih basah terpercik hujan sesaat lalu, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya.  Ia tidak tahu harus berbuat apa, tertatih mencari jalan dalam merajut hidupnya, dan sungguh ia tidak memiliki apa-apa, sebait pengetahuan kah, segenggam dana kah, sebuah huluran tangankah, entah dia hanya punya sedikit asa, yang harapnya tercerai berai entah kemana.  Hanya sebuah "beban" silamnya yang belum terselesaikan membuat ia harus terus bertahan di sini, di Dingin Bogor, yang sebenarnya mulai memunculkan sebuah tanya dalam ruang benaknya "adakah disini masih bersahabat dengan saya..?".

Sampai langkah kakinya di pelataran Graha Widya Wisuda, Alhamdulillah sekarang sudah megah kembali dengan wajah barunya, selalu ada perbaikan setelah mengalami kerusakan, bahkan tanpa sebuah kerusakan pun mesti selalu ada upaya untuk selalu melakukan perbaikan.  Dia hentikan langkahnya, matanya menerawang senja ke arah barat dan lalu lalang Kendaraan di sana memasung asanya "Sudah adakah perubahan dalam langkah-langkahnya..?"

Enam bulan sudah, dan ia belum memperoleh suatu pekerjaan yang semestinya, tidak sebuah langkah kecilpun yang pasti menghadirkan sepeser Perak untuk mengisi uang sakunya.  Dan bukan salah siapa-siapa, Adakah sudah dimaksimalkan usahanya, memang tidak ada sebuah maksimal disana, dan kenapa tidak ada maksimaliasi untuk itu, biar saja hanya "saya yang tahu jawabnya" fikirnya.
Adakah dia seorang yang terlalu pemilih, entah.  Tentang sebuah pekerjaan saja, apa-apa saja itu, ketika masih dalam koridor kebaikan, "aku hanya perlu sehembus angin sehingga aku mampu menggapainya, bukan sebuah keputus asaan, dan apa hak mu berputus asa ketika satu dua usahapun jarang kau genapkan."  Ada sebuah ruang yang Insyaalloh telah tersediakan, namun aku tidak tahu dimanakah ruang itu, dari mana datangnya, bagaimana aku mendapatinya, dan dengan apakah aku dapat merengkuhnya.

Enam bulan sudah, mungkin aku harus dan akan segera beranjak dari sini, ketika "beban" silamku itu sudah terselesaikan.  Aku berharap itu akan segera selesai, namun ruang fikir yang terbagi, tentang masa depan yang tiada pasti, tentang ketidak tentuan proporsinya, membuat hal yang 'relatif' mudah itu terbengkalai sekian lama.  Dan ada begitu banyak perubahan, permintaan yang muncul, dan andai saja langkah hidupku saat ini sudah dalam alur pasti, tentunya optimalisasi kerjaku untuk itu akan sangat menggebu, akan ada loyalitas yang bersegera, Namun ruang logikaku sedang terbagi sehingga terkadang semangatnya kadang hadir kadang tiada.

Bilakah selepas April ini semuanya akan berakhir, dan mungkin aku akan berlepas diri dari Bogor ini, ia sampai di pertigaan Tembok Berlin ketika fikir itu menyeruak muncul di benaknya.  Lalu setelah ini apa, kembali ke tempat Bunda, adalah pilihan terbaik walaupun aku sadari itu adalah sebuah langkah mundur, dan aku akan hadir disana tanpa membawa apa-apa setelah sekian lama, aku khawatir membuatnya kecewa, lalu aku harus bagaimana.

Sampai di Hujung Balio sana dalam gerah lelahnya, dan di depan pintu ada sebait senyum dari sahabat-sahabatnya, dan segera dibalasnya untuk meniadakan cercah-cercah bimbang dalam relung kalbunya, dan ada seuntai senyum lain disana, oh ada sahabat yang datang jauh-jauh kesini.
tertawa renyah penuh tanya.. "Dari mana Baru pulang..?".

Malam beranjak larut, meninggalkan senja yang enggan digamit turut serta, aku tidak sempat memandang langit sehingga tidak tahu apakah rembulan sedang purnama, ditemani bintang-bintang, atau hanya gulita disana, yang ada dalam hari-hari ku adalah sebuah harap, naik turun nya motivasi, dan setiap harinya memunculkan kelemahan diri yang semakin nyata.

Satu bulan menjelang usia ini akan menapakan jejaknya di angka 25, sudah sebegitu lamakah aku mengarungi usia, beranjak cepat dari usia 17, lalu apakah yang sudah aku gapai dalam perjalananku.  Jika mau jujur belum apa-apa, dan aku bahkan memberikan ironi pada diri ini, kau belum memperoleh apa-apa.  Adakah segala sesuatnya menjadi terlambat.  Diri ini yang lalai dan terlenakah, perjumpaan akan hakikat yang baru sekian tahun menyapanya, dan akselerasi diri yang lambat, serta tumpul fikir yang menghambat.

Pagi, datang menyapa di keesokan harinya, Sinar mentari menyeruak menggradasikan violet di antara Tirai jendelanya, awan-awan putih berjejeran di biru sana.  Segelas teh pahit menemaninnya membuka pagi, disertai gemuruh Merah Saganya Shoutul Harokah, tercenung sesaat di hadapan 14  Inch Dell Compaq nya, matanya masih menyisakan kantuk, bersegera ia membasuhnya dalam guyuran dingin air sekitar 15 menit, ditengok ke seberang barat jendelanya, ah seorang sahabatnya nampak berjalan kearah selatan, wajahnya cerah seperti biasanya, sumringah dalam senyumnya, dan ia sedang bersegera untuk menyelesaikan tugas akhirnya.  Bersegeralah kawan, sehingga potensimu akan lebih bergema.

Diusianya menjelang dua lima, kawan-kawan mulai sering menggodanya. "Kapan nikah.." upss.., E-mail e-mail yang berdatangan di kotak suratnya juga tak jauh-jauh dari itu...tentang virus merah jambu, tentang lelaki idaman, tentang provokasi, tentang jatuh cinta, dan artikel-artikel yang menarik dan menawan, tutur katanya, bahasanya, dan tentu saja isinya.
Dan menikah, kosakata itu mulai dan sempat hadir di saat usianya menjelang dua tiga, dan kemudian kini muncul kembali. Dia masih ragu dan takut untuk memulainya kembali.

Asa itu memang begitu menawan, mengoda hatinya untuk menggenapkan separuh agamanya, namun kemudian dikuburnya dahulu itu jauh-jauh, ia masih takut untuk menjenguk sebuah ruang itu, ada misteri tersembunyi, ada banyak hal yang belum difahaminya, ada ruang pemahaman yang terbatas di dalam dirinya. Ia takut untuk memulai kembali mendefinisi makna cinta.  Apa sih yang difahaminya, tentang sebuah kata yang begitu luas maknanya, ia khawatir jika semuanya kemudian hanya semu, dan hanya hasrat yang menyeretnya.  Mimpinya, harapnya, asanya tentang membangun mahligai kokoh terkebumikan dahulu entah disudut mana.  Adalah sebuah pesimistis yang menggalinya, dan ia membiarkannya begitu saja.
 
Dirinya pernah mengharap sebuah kejora yang bersinar terang salahkah itu, sedang ia hanya sebuah debu dari nebula yang tertinggal jauh.  Oh iya dia hanya seorang ikhwan biasa, ikhwan dalam artian sebenarnya, yah, hanya seorang lelaki biasa, bukan seperti mereka yang mampu melesat bergerak cepat di medan dakwah, bukan seperti mereka yang punya beragam anak panah untuk tetap melesat maju di ladang-ladang  dakwah yang ditemuinya.  Ia bersyukur ketika ia ada dipersimpangan jalan, gerak langkah mereka telah memikatnya.  Indah tutur bicaranya, baik akhlaknya, luas wawasannya, dan bisa bersama mereka menjadi langkah indah yang pernah ia lalui, menyusun maniknya  Meski disana dia tidak bisa melakukan percepatan seperti mereka, ya,.. tidak bisa mobile seperti mereka karena dia hanya seorang biasa, sebutir debu yang berharap bisa bersama-sama membangun sebuah titik dalam garis panjang perjuangan, dan dalam perjalanan itu Ikhwannya, akhowatnya semua punya pesona dalam meretas jalan dakwah di lingkup kampus ini.

Hari beranjak siang, ia masih berdiam di depan 14 Inch Dell Compaq nya, tentang kemudian dia menemukan sebuah kejora indah adalah sesuatu yang lumrah fikirnya.  Pribadi-pribadi yang terbentuk disana Insyaalloh akan menjadi pribadi tangguh, apalagi bila sudah mempunyai fondasi yang kokoh sejak dulunya.  Kejora itu bukan seseorang yang kemudian aku harap karena kemudian aku teringat "Bahwa seseorang lelaki yang baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik pula".  Namun kejora itu adalah kemudian menjadi sesosok figure ideal tentang seorang yang akan menjadi belahan jiwanya".  Karena dia tidak atau mungkin belum terlalu mengenal figur-figur bidadari ideal yang ada di jaman Rasulullah, mungkin ini pendekatan yang paling mudah difahaminya.  Ia tidak menggembalakan rasanya itu seperti yang dilakukan Abu Thahlah terhadap Al-Khansa, sebab ia tidak merasa layak untuk itu.

Kemudian dia bertanya bolehkah dia berharap atas seseorang yang lebih baik dari dirinya, seorang mujahidah tangguh yang akan menjadi pendidik keturunan generasi masa depannya, yang akan melahirkan jundi-jundi kecil yang siap menjadi prajurit-prajurit-Nya. Namun ia bukan siapa-siapa.
Memurnikan sebuah makna yang belum difahaminya, berjalan kemudian dia selepas Dzuhur, mencari sebuah kepastian, dan langkah-langkahnya pasti menuju kembali kampusnya.  Bahwa saat ini ada seseorang yang menjadi begitu dekat menurut ruang rasanya.  Seseorang yang hadir tiba-tiba dalam tatih perjalanannya.  Yang hadir mengisi sebuah ruang dengan riuh canda dan manjanya.  Namun yang hadir kemudian bukan sebuah rasa, melainkan suci yang lebih agung, yang lebih mempesona.  Walaupun kemudian dia menyadari bahwa dia hanyalah seorang lelaki biasa yang seperti pernah dikhawatirkan sahabatnya bahwa ia sedang berjalan menuju jurang yang dia sadari keberadaannya.  Maka penggembalaan rasa yang satu ini menjadi sebuah cerita indah sendiri, penyusun manik-manik hidupnya yang masih satu-satu.

Hari mulai petang kembali, sore itu tidak lagi ada asa tentang bidadari membayang dalam ruang hatinya.  Hatinya sedang kelabu, seperti sendunya langit biru yang tertutup awan-awan kelabu. Termenung sendirian di Beranda Huriyyah, selepas mencari sebuah kepastian dan meski sebuah pahit yang ia dapati, atau sebuah hal yang tidak sesuai dengan harapnya, setidaknya ia menemukan sebuah kepastian, dan ia telah menentukan sebuah putusan tentang beban silamnya, tidak menyelesaikan masalah memang, namun setidaknya tidak memunculkan ruang masalah baru bagi dirinya.

Sebulan menjelang ke usianya yang ke dua lima.  Langkah-langkahnya masih tak pasti, ia masih berada di sebuah persimpangan, ternyata sehembus angin belum menjadi giliran datang kepada dirinya.  Ia menjadi ragu terhadap apa yang dimilikinya.  Apakah ia akan menturuti apa yang sempat menggema dalam ruang hatinya.  Jika tidak ada sebuah usaha yang mampu dilakukan, lalu kemanakah dirinya harus berpaling.  Ketika semuanya begitu jauh dari genggamannya kepada -Nya kah ? semuanya diserahkan, bahwa dia tidak memiliki daya dan upaya, untuk menggapai apa yang telah dijanjikan-Nya.

(Dalam Renungan Dua hari, Yasmin-Lab Mosi-Plaza Rektorat-GWW-Al Huriyyah)

Tersarikan pada 12:05 pm oleh Averous

icha
April 26, 2005   09:22 AM PDT
 
Assalamualaikum, postingannya hampir mirip dgn seseorang yg mungkin keadaannya sama dgn anda. Bahkan ketika memahami isinya pun, semuanya sama. Sempat terpikir oleh saya kalau postingan ini 'dia' yg menulisnya. Terima kasi, wassalamualaikum wr wb.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry

Image hosted by Photobucket.com

Kotak Kesan Pesan
   
Image hosted by Photobucket.com



Image hosted by Photobucket.com

Cerita Rekan



Image hosted by Photobucket.com

Media



Image hosted by Photobucket.com



Blogdrive

 

 


Member of